Kisah Pilu Satu Keluarga Tinggal Digubuk Tidak Layak Huni di Kampung Banjaran Cengklik 

Kisah Pilu Satu Keluarga Tinggal Digubuk Tidak Layak Huni di Kampung Banjaran Cengklik 
Foto : Bapak Parmin dan Painem Dirumah Tidak Layak Huni di Dusun Banjaran Cengklik, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang

SEMARANG - Enam tahun, Bpk Parmin (60) dan anaknya Painem (43) yang berstatus janda dan tiga anaknya tinggal di gubuk tak layak huni di Kampung Banjaran Cengklik RT.37 RW.07, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Gubuk yang berukuran 8x10 meter itu bahkan lebih mirip 'kandang ternak' dibandingkan tempat tinggal.

Udara dingin dirasakan hampir setiap malam, terlebih setelah hujan. Bagaimana tidak, gubuk tersebut hanya terbuat dari papan kayu bekas sebagai dindingnya.

Tanah pun menjadi lantainya. Sedangkan untuk tidur hanya beralaskan kain yang disusun menyerupai kasur.

Sebelum tinggal di gubuk yang berlokasi di kampung Banjaran Cengklik RT.37 RW.07 tersebut, Parmin dan anaknya Painem dengan status janda sempat tinggal di rumah tidak layak. Namun kondisi ekonomi yang kurang, membuat Parmin dan anaknya Painem yang hanya berprofesi sebagai buruh serabutan untuk kebutuhan sehari-hari.

Setelah itu, ia memanfaatkan sepetak tanah milik keluarga untuk dibuat gubuk sebagai tempat tinggal.

"Sudah enam tahun saya dan keluarga tinggal di sini. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya uang untuk membuat rumah yang lebih layak, " ujar Parmin. Minggu, (7/11/2021).

Tak ada bantuan pembangunan rumah layak huni baginya. Bahkan bantuan lainnya seperti PKH, BPNT dan hinga bantuan Beras untuk keluarga pra sejahtera juga tak didapatnya.

"Dulu sempat mau dapat bantuan tapi enggak jadi karena terkendala Adminduk, " kata dia.

Meski begitu, Parmin selalu mengajarkan anaknya untuk tetap bersyukur meski kondisi keluarga memprihatinkan. "Segala sesuatu tetap saya syukuri, masih ada tempat tinggal. Meskipun saya juga berharap ada bantuan, agar anak-anak tinggal di tempat yang lebih layak, " ungkapnya.

Sementara itu, Ketua RT.37 Kampung Banjaran Cengklik Sardi (54) mengaku dirinya sudah pernah mengajukan perbaikan Adminduk kepada pihak Desa untuk persyaratan supaya mendapatkan bantuan. Namun hingga saat ini masih belum ada kepastian.

"Dulu saya pernah ajukan bantuan tapi tidak bisa karena masalah KTP dan KK. Saya ajukan ke Desa terkait KTP dan KK namun belum juga ada kepastian", ucapnya.

Semoga pihak-pihak terkait segera usulkan ke Dinsos supaya cepat dapat bantuan. Termasuk untuk PKH dan Bansos lainnya, terutama adminduknya yang jadi persyaratan utama.

Jurnalis : Bendhot

Editor : Agung w

Biro : Semarang

Semarang Jateng RTLH Dinsos
Agung widodo

Agung widodo

Previous Article

Squad Gowes Tegalwangi Rayakan Ulang Tahun...

Next Article

Seorang Lelaki Ditemukan Tewas di Tengah...

Related Posts

Peringkat

Profle

Sopiyan hadi

Nanang suryana saputra

Nanang suryana saputra

Postingan Bulan ini: 4

Postingan Tahun ini: 4

Registered: Apr 14, 2021

Aa Ruslan Sutisna

Aa Ruslan Sutisna

Postingan Bulan ini: 4

Postingan Tahun ini: 4

Registered: Oct 27, 2021

Herman Djide.B

Herman Djide.B

Postingan Bulan ini: 3

Postingan Tahun ini: 3

Registered: Jan 3, 2022

Edi Purwanto

Edi Purwanto

Postingan Bulan ini: 2

Postingan Tahun ini: 2

Registered: Jan 2, 2022

Profle

Nanang suryana saputra

Warga Desa Cibenda Gotong Royong Bangun Rumah Mantan Hansip
PABPDSI Kabupaten Sukabumi Resmi Dilalantik, Ketum PABPDSI: Ini Merupakan Agenda Nasional
Sasar Perkampungan, Tiga Pilar Kelurahan Ma'rang Cari Warga untuk di Vaksin
Robiah  Wanita Tua Warga Dusun Patrol Desa Cibenda Cari Nafkah Dari Hasil Menjual Sapu Lidi

Follow Us

Recommended Posts

Miras dan Pergaulan Bebas Memicu Terjadinya Kasus Asusila
Hujan Deras Disertai Angin Kencang Mengakibatkan Rumah Warga Cimrutu Roboh
Kemendagri Ungkap Strategi Realisasi Penyerapan Program secara CETTAR
Ketua BNSP Serahkan Langsung Sertifikat Lisensi LSP SDM TIK
Presiden Resmikan Pasar Johar di Semarang